Potensi Pertanian Cabai Keriting Desa Gondangslamet
Sabtu 7 Oktober 2017

GONDANGSLAMET - Cabai keriting adalah salah satu komoditas pertanian unggulan di Desa Gondangslamet, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

Kadus II Desa Gondangslamet, Wahono, yang sekaligus menjadi petani cabai keriting mengaku budidaya cabai keriting terbilang lebih mudah dibandingkan budidaya cabai rawit. Hal ini dipengaruhi tanah di daerah Gondangslamet yang lebih lembab daripada tanah di daerah lain.

“Saya sudah bertahun-tahun menjadi petani cabai. Saya pernah mencoba menanam cabai rawit tetapi hasilnya juga tidak maksimal. Begitu pun dengan masyarakat. Mereka jarang yang berhasil kalau menanam cabai rawit,” terang Wahono.

Budidaya cabai keriting dimulai dengan pengolahan tanah.  Pengolahan tanah dilakukan dengan mencampur tanah dengan pupuk kandang, NPK/Poska/TSP, dan dolomit. Tanah hasil olahan tersebut harus selama kurang lebih satu pekan sebelum diaduk kembali.

Setelah olahan tanah selesai dibuat, petani baru bisa membuat lubang tanam atau bedengan untuk memasukkan bibit cabai keriting. Setelah bibit ditanam, tanah bedengan lalu diinjak-injak agar tanah mampu menopang bibit dan tidak roboh ketika pohon cabai mulai tumbuh.

“Cabai keriting hanya memerlukan satu kali pemupukan sepanjang pertumbuhannya. Selanjutnya tinggal fokus pada perawatan cabai keriting,” kata Wahono.

Wahono mengatakan cabai keriting hanya memerlukan pemupukan dengan pupuk buah atau pupuk daun. Hal ini agar buah cabai bagus dan tidak terserang hama. Sementara pupuk daun berguna untuk memperlancar pertumbuhan cabai selama masa vegetatifnya. Penyiraman dapat dilakukan dengan melihat kondisi tanah terlebih dahulu.  Jika dirasa kelembabannya kurang, maka tanaman perlu disiram. Pada musim kemarau, biasanya penyiraman dilakukan dua kali sehari. Apabila menggunakan sistem irigasi genangan, tanaman cabai tidak boleh terlalu lama tergenang air karena dapat menyebabkan mudah busuk dan rusak.

Kontrol bedengan juga diperlukan guna memastikan kondisi tanaman. Apabila ada tanaman yang memiliki pertumbuhan kurang baik, bisa dilakukan proses penyulaman. “Memang perawatan cabai harus berhati-hati, soalnya tanaman cabai mudah roboh dan rentan dengan penyakit busuk buah,” ujarnya.

Cabe keriting memerlukan waktu 90 hari setelah tanam untuk mencapai tahap panen. Wahyono mengaku total hasin panen bisa mencapai satu kwintal, tapi tidak dilakukan sekali panen. Sejauh ini, selisih harga cabe rawit dan cabe biasa di pasar bisa mencapai Rp10.000 hingga Rp15.000. Tidak ada kendala khusus untuk budidaya cabai keriting, kendala hanya pada musim. 

Berita Terkini