Tanah Tegalan Jadi Komoditas Menjanjikan
Sabtu 7 Oktober 2017

Gondangslamet - Luasnya area tegalan atau ladang yang terhampar di Desa Gondangslamet, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, membuka peluang usaha menjanjikan bagi masyarakat setempat. Tidak hanya mengolah lahan untuk pertanian, sebagian warga juga melirik usaha pembuatan batu bata dengan memanfaatkan tanah yang tersedia di tegalan milik mereka.

Salah seorang produsen batu bata di Dukuh Sukodadi RT 001/ RW 001, Desa Gondangslamet, Supar, mengaku memilih usaha itu karena memiliki ladang yang cukup luas. Pria yang telah memulai bisnis batu bata sejak 2005 itu menyadari ladangnya tidak akan menghasilkan cukup banyak uang jika hanya ditanami. Oleh sebab itu, dia berinisiatif membuat batu bata dengan memanfaatkan bahan baku tanah liat yang bisa diambil secara cuma-cuma di ladang miliknya.

Ladang yang luas tidak hanya membuat Supar dengan mudah mendapatkan bahan baku tapi juga memiliki area untuk memproduksi batu bata. Proses pembuatan batu bata diawali dengan menyiapkan tanah liat. Dia mencangkul tanah liat dari ladang kemudian dihaluskan terlebih dahulu dengan menggunakan cangkul. Tanah liat yang telah halus lalu dicetak berbentuk balok dan dijemur selama empat hari. Setelah kering, batu bata dibakar menggunakan kayu atau sekam padi supaya lebih kokoh. Pembakaran dengan menggunakan sekam padi membutuhkan waktu hingga empathari. Jika menggunakan kayu, pembakaran batu bata hanya memakan waktu satu hari satu malam karena api pembakaran kayu jauh lebih panas daripada sekam.

Supar masih memproduksi batu bata secara manual. Menurut dia, hasil produksi secara manual dapat menghasilkan batu bata yang lebih kokoh dan mudah meresap dengan semen. Sementara itu, produksi dengan menggunakan mesin bisa menghasilkan batu bata yang cenderung lebih halus meski kurang kokoh.

Supar dapat memproduksi sekitar 400 batu bata setiap hari yang dijual seharga Rp550 per buah. Dia memasarkan hasil produksinya itu ke Karanggede, Simo, dan sebagainya. Dulu, Supar bisa meraup keuntungan hingga Rp 3.000.000 setiap bulan, tapi kini keuntungan dari usaha batu bata itu menurun cukup tajam. Supar kini hanya bisa mengantongi Rp 2.000.000 per bulan karena berkurangnya kapasitas produksi.

“Dulu paling tidak kapasitas produksi per hari ya 1.000 buah, sekarang kapasitas produksi per hari hanya 400 buah,”tutur Supar.

Penurunan kapasitas produksi dikarenakan bekurangnya tenaga kerja di usahanya itu. Dulu, Supar memiliki lima karyawan untuk membantu memproduksi batu bata. Namun kini, Supar harus bekerja sendirian.

Selain kekurangan tenaga kerja, pengembangan usaha batu bata milik Supar juga terkendala masalah modal dan cuaca. Supar berharap bisa menambah karyawan jika memiliki modal cukup besar. Dengan demikian, dia tidak perlu pembeli karena kewalahan memenuhi pesanan batu bata. “Kalau dulu kan saya mempunyai beberapa tenaga, kalau ada pesanan-pesanan saya masih bisa. Tetapi kalau sekarang saya tidak berani karena sudah tua,”imbuh dia.

Berita Terkini